Pada bulan Juni 1995, hidup saya mencapai titik tergelap. Saya mengetahui bahwa selingkuhan suami saya sedang hamil dan akan melahirkan. Pernikahan kami benar-benar hancur. Pada tanggal 6 Juli, suami saya menyerang saya dengan kejam, hingga saya dirawat di rumah sakit. Keesokan harinya, kami menandatangani surat cerai. Tanpa diduga, dia mengubah isinya dan mengambil bukti surat perjanjian jaminan utang yang seharusnya ditanggungnya, membuat saya terpaksa untuk mulai mengumpulkan bukti.
Yang paling menyakitkan bagi saya adalah ketika seorang teman mengajak saya berlibur santai di bulan Oktober, dan sekembalinya ke Taiwan, saya mendapati tubuh putri kecil saya penuh luka. Merasa takut, saya segera membawanya ke unit gawat darurat, menyadari bahwa saya harus melarikan diri dari rumah berbahaya ini bersama anak-anak saya. Setelah menelepon polisi, kami ditempatkan di Tempat Penampungan Yayasan Shan Mu. Malam pertama di Shan Mu, saya memeluk erat anak-anak saya dan merasakan rasa aman untuk pertama kalinya. Perasaan itu seperti dilindungi oleh malaikat, dan hal itu membentuk ikatan abadi antara saya, Shan Mu, dan Katolik.
Shan Mu memberi kami perawatan, dukungan, dan pendampingan yang hangat dan cermat. Seorang pekerja sosial mengambil resiko untuk membantu saya dan putra saya keluar dari rumah yang telah menyakiti kami, menyediakan tempat yang aman dan tentram bagi kami bertiga. Lebih penting lagi, Shan Mu menyediakan konseling psikologis profesional untuk putri saya dan saya. Khususnya, membantu putri saya yang mengalami trauma fisik dan mental untuk perlahan-lahan menyembuhkan hatinya yang hancur dan terluka melalui permainan, buku bergambar, terapi seni dll, yang menjadi kekuatan baginya untuk berani menghadapi dunia di masa depan.
Bantuan hukum bahkan lebih penting lagi. Pekerja sosial membantu saya terhubung dengan pengacara, mengajari saya cara mengumpulkan bukti, dan menyimpan rekam medis. Akhirnya, kami memenangkan kasus tersebut dan mendapatkan hak asuh anak serta tempat tinggal yang layak. Shan Mu bukan sekadar tempat berlindung sementara yang aman, tetapi juga mengajari saya cara bangkit kembali untuk menghadapi tantangan hidup.
Kekuatan yang membantu saya melewati masa sulit berasal dari tiga sumber. Pertama, saya bertemu teman di penampungan. Pengalaman mereka bahkan lebih buruk daripada pengalaman saya. Setelah mendengarkan cerita mereka, saya menyadari bahwa saya bukanlah yang paling malang, dan itu mengajari saya untuk mengubah pola pikir saya. Kedua, anak-anaklah yang memberiku kekuatan. Melihat mata polos mereka, aku tahu aku harus kuat.
Ketiga, iman Katolik yang saya temui di Shan Mu yang mengubah hidup saya. Iman mengajarkan saya untuk menghadapi setiap orang dalam hidup saya dengan rasa syukur. Saya sungguh percaya bahwa semua ini adalah rencana kasih Allah. Dia selalu memberikan kekuatan dan pendampingan di masa-masa tersulit, memampukan saya untuk berani memikul beban keuangan dan tanggung jawab membesarkan anak-anak.
Melihat ulang masa pertumbuhan yang sulit ini, saya menganggapnya sebagai suatu bentuk anugrerah istimewa yang diberikan Tuhan kepada saya. Tanpa "pelatihan" yang menyakitkan itu, saya tidak akan menjadi pribadi yang berani dan mandiri seperti sekarang, yang menghadapi badai dengan berani. Setelah secara pribadi mengalami langsung dampak "Shan Mu" mengubah hidup, saya sangat memahami kekuatan di dalam kegelapan. Sampai hari ini, saya terus menyebarkan kasih ini dengan berdonasi ke Yayasan Shan Mu, karena saya tahu betul bahwa "uluran tangan dalam kegelapan dapat mengubah hidup seseorang."
Terakhir, saya ingin berbagi kepada semua orang dari pengalaman saya sendiri: "Kegelapan pada akhirnya akan berlalu. Selama kita tidak menyerah, semua orang bisa terlahir kembali dari abu seperti burung Phoenix." Saya yang sekarang adalah saksi terbaik.