"Pekerja sosial, saya ingin menjadi lebih baik dan lebih stabil. Saya ingin dapat menjelaskan masalah dan kesulitan yang saya hadapi kepada hakim dengan baik. Saya harap hakim dapat membantu saya!" Meili, yang datang ke penampungan karena kekerasan dalam rumah tangga, sangat ragu dan gelisah saat pertama kali tiba. Ia selalu bersikap hati-hati dan kaku. Melihat perubahan Meili dari kaku menjadi berani membuat orang merasa bahwa meskipun pekerjaan di penampungan sangat menegangkan dan menguras emosi, tapi ternyata pekerjaan itu juga sangat berharga.
Meili sudah lama menjadi korban kekerasan mental, intimidasi, dan pelecehan dari pacarnya. Ia ingin putus, tetapi setiap kali ia menyinggung soal putus, pacarnya akan bereaksi berlebihan dan bahkan melecehkan anak-anaknya. Menghadapi situasi ini, Meili tidak berani dan tidak ingin merepotkan keluarganya lagi, sehingga ia memilih untuk pergi ke tempat penampungan.
Saat Meili pertama kali tiba di penampungan, ia kurang tidur dan makan sedikit. Bertahun-tahun sebelumnya, perawatan kanker membuatnya terus-menerus merasakan sakit dan tidaknyaman. Suasana hati Meili muram, seperti ada awan gelap yang menggantung dalam waktu yang lama, ia tidak tersenyum juga tidak marah. Setiap kali ada orang asing yang datang ke penampungan, Meili akan segera bersembunyi ke kamarnya, karena takut itu mungkin pacarnya atau seseorang yang mengenal pacarnya, dan dirinya akan ditemukan.
Tim profesional di penampungan tersebut menilai kondisi fisik dan mental Meili melalui interaksi dan observasi, dan semua orang berkumpul untuk membahas cara membantu Meili.
Dalam keseharian, para konselor kehidupan mengajak Meili mendiskusikan menu makanan juga bersama-sama menyiapkan makan siang dan makan malam. Melalui interaksi di dapur sambil memasak, Meili berbagi kisah masa lalunya dalam suasana yang santai, sehingga pekerja sosial dapat mengenalnya lebih baik. Para konselor kehidupan juga memanfaatkan kesempatan ini untuk mempelajari kebiasaan makan Meili dan menyesuaikan rasa dengan tepat untuk meningkatkan nafsu makannya. Di saat yang sama, para konselor kehidupan juga mendorong Meili untuk lebih sering berjalan-jalan di sekitar penampungan, atau menyiram bunga dan berjalan-jalan di taman penyembuhan. Dengan harapan bahwa melalui aktivitas dan latihan yang tepat, ia dapat mengurangi ketidaknyamanan fisik dan meningkatkan kekuatan fisiknya.
Di sisi lain, pekerja sosial membawa Meili ke berobat ke psikosomatis. Berkat pengobatan, kecemasannya mereda dan ia dapat tidur lebih nyenyak di malam hari. Di saat yang sama juga berjanji akan menemani Meili ke dokter dan mengambil obatnya tepat waktu. Ketika tubuh dan pikiran Meili berangsur-angsur stabil berkat jadwal istirahat yang teratur hasil dari upaya tim penampungan, pekerja sosial mulai membahas rencana masa depan dengan Meili.
Awalnya, anak-anak Meili khawatir ia tidak dapat tinggal lama di tempat penampungan dan segera mencarikannya tempat sewa, berharap ia dapat segera pindah. Setelah melalui penjelasan dan komunikasi dengan pekerja sosial, Meili dan anak-anaknya mengerti dan merasa tenang untuk membiarkan Meili tinggal di tempat penampungan hingga sidang pengadilan dan dikeluarkannya perintah perlindungan. Setelah ada jaminan keamanan, barulah Meili boleh meninggalkan tempat penampungan.
Kemudian, ketika sidang mengenai perintah perlindungan akan diajukan, Meili sedikit khawatir, tetapi karena ia telah tinggal di penampungan selama beberapa waktu, hatinya merasa tenang. Dalam kesehariannya, melalui interaksi dengan kelompok yang dikelola oleh pekerja sosial, ia dapat melihat kekuatannya sendiri, dan mendapatkan sedikit lebih banyak kepercayaan dan penegasan diri. Ketika Meili berinisiatif untuk berkata kepada pekerja sosial, "Pekerja sosial, saya ingin menjadi lebih baik dan lebih stabil. Saya ingin dapat menjelaskan masalah dan kesulitan saya kepada hakim dengan baik. Saya harap hakim dapat membantu saya!", tim Tempat Penampungan Shan Mu tahu bahwa Meili telah berhasil mengembangkan kekuatannya sendiri dan menemukan "ketangguhan"nya.